Septyan Widianto

Catatan Harian Septyan

Artikel Islami

Anjuran Puasa 9 dan 10 Muharram

Anjuran Puasa 9 dan 10 Muharram berikut dari pada sahabat Radhiallahuanhum Ajmain.

1. Ibnu Abbas radhiallahu anhuma:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم صام يوم عاشوراء وأمر بصيامه

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berpuasa pada hari Asyura ( 10 Muharram ) dan beliau memerintahkan manusia untuk berpuasa ( muttafaqun ‘alaih )

2. Dari Abu Qatadah radhiallahuanhu:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سئل عن صيام يوم عاشوراء فقال يكفر السنة الماضية

“Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab; (Puasa Asyuro) dapat menggugurkan dosa-dosa setahun yang lalu.” ( HR. Muslim 197 & 1162 ).

3. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma:

لئن بقيت إلى قابل لأصومن التاسع

“Jika aku masih hidup hingga tahun mendatang maka aku akan berpuasa juga di hari ke 9.” (HR. Muslim 134 & 1134)

Alasan Nabi shallallahu ‘alaihi wassam ingin berpuasa di hari ke-9 dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa di hari ke-10. Mereka bergembira atas selamatnya Nabi Musa ‘alaihissalam dan pengikutnya dari kejaran Fir’aun. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam yang lebih pantas bergembira ketimbang mereka. Perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memberi faidah bahwa Islam agama sempurna yang dibangun di atas penyelisihan dari kebiasaan agama lain.

Syaikh Al-‘Allamah Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Nabi dan para Shohabatnya yang sebetulnya lebih pantas meneladani para Nabi sebelumnya. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadap Ibrohim adalah orang-orang yang mengikuti napak tilasnya dan Nabi ini (Muhammad) serta orang-orang yang beriman. Dan Allah sebagai pelindung bagi orang-orang yang beriman.” (Al-‘Imron: 68)

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam lebih berhak terhadap Musa ‘alaihissalam ketimbang orang-orang Yahudi yang mengingkari syariat Nabi Musa ‘alaihissalam, Nabi Isa ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam. Oleh karena itu beliau berpuasa pada hari tersebut dan memerintahkan manusia berpuasa dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa di hari ke-10 Muharram.

Ibnul Qoyyim rahimahullah dan para Ulama yang lain membagi puasa Asyura menjadi tiga tingkatan:

  1. Berpuasa pada hari ke-10 ( Asyura ) dan ke-9 ( Tasu’a ), ini amalan yang paling utama.
  2. Berpuasa pada hari ke-10 dan ke-11, ini kedudukannya lebih rendah daripada amalan yang pertama.
  3. Berpuasa pada hari ke-10 saja, sebagian ulama menganggap makruk karen Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memerintahkan menyelisihi orang-orang Yahudi. Meski demikian tidak dinafi’kan ada sebagian ulama yang memberi keringanan akan hal ini. ( Syarh Riyadhussalihin 3/506 ).

Terkait puasa di hari ke-11 Syaikh Al-‘Allamah Al-Albani rahimahullah memberi catatan, “Berpuasa pada hari ke 11 diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Sunannya 4/287 tetapi riwayat ini lemah karena dalam sanadnya ada rowi yang jelek hafalannya yaitu Ibnu Abi Laila. Dan Al-Baihaqi juga meriwayatkan hadits lain dengan redaksi yang semakna. Namun riwayat yang menyebutkan hari ke 11 dinilai “munkar” karena menyelisihi hadits shohih, “Jika aku masih hidup hingga tahun mendatang maka aku akan berpuasa pada hari ke 9-nya (tanpa menyebutkan hari ke 11).” (Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah 9/288 no. 4297)

Demikian. Semoga bermanfaat.

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *