Septyan Widianto

Catatan Harian Septyan

Artikel Islami

Sifat Penghuni Surga

Surga adalah tempat yang selalu diinginkan bagi seorang muslim. Karena di sanalah tempat yang abadi kita akan merasakan kebahagiaan. Berbicara tentang Surga, yuk kita kenali sifat-sifat penghuni Surga. Berikut sifat-sifat penghuni Surga yang Allah Subhanahu wa ta’ala beritahukan dalam Surah Qaf : 31-35.

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)

“Sedangkan Surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh ( dari mereka ). ( Kepada mereka dikatakan ): ‘Inilah nikmat hamba yang dijanjikan kepadamu, ( yaitu ) kepada setiap hamba yang senantiasa bertobat ( kepada Allah ta’ala ) dan memelihara ( semua peraturan-peraturan-Nya ). ( Yaitu ) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan ( olehnya ) dan dia datang dengan hati yang bertobat. Masuklah ke ( dalam surga ) dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi’. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya.”

Dari Surah Qaf: 31-35 Ibnu Qayyim Al Jauziyah menyebutkan 4 sifat penghuni surga:

1. Awwab

Yaitu orang yang banyak bertaubat kepada Allah ta’ala; dari maksiat menuju ketaatan, dari lalai menjadi ingat kepada Allah ta’ala.

Ubaid bin Umair rahimahullah berkata: “Istilah awwab ditujukan kepada seorang yang mengingat dosa-dosanya lalu beristighfar memohon ampun kepada Allah karenanya”

Said bin al-Musayyib rahimahullah menjelaskan: “Awwab artinya orang yang berbuat dosa kemudian bertaubat, lalu berbuat dosa lagi kemudian bertaubat lagi.”

2. Hafizh

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata: “Hafizh artinya, orang yang pandai menjaga amanat Allah dan apa-apa yang diwajibkan kepadanya”. Qatadah rahimahullah menerangkan. “Pandai menjaga hak dan nikmat Allah ta’ala yang dititipkan kepadanya.”

Di dalam jiwa setiap orang terdapat dua kekuatan: kekuatan meminta dan kekuatan menahan diri.

Orang yang bersifat awwab adalah orang yang mempergunakan kekuatan meminta ketika kembali kepada Allah ta’ala, mengharap ridha-Nya dan mentaati-Nya. Sedangkan orang yang bersifat hafizh adalah orang yang menggunakan kekuatan menahan diri ketika menghindarkan maksiat larangan-Nya. Dengan kata lain, seorang hafizh adalah orang yang pandai menahan diri dari segala yang diharamkan Allah ta’ala, sementara awwab adalah orang yang senantiasa kembali kepada Allah ta’ala dengan berbuat ketaatan kepada-Nya.

3. Khasyi Ar-Rahman

Orang yang takut dan tunduk kepada Allah ta’ala yang Maha Pengasih, sebagaimana firman Allah ta’ala. “( Yaitu ) orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih sekalipun tidak kelihatan ( olehnya ).” ( QS. Qaf : 33 ). Ayat ini mengandung pengakuan seorang hamba terhadap eksistensi Allah ta’ala dan rububiyyah-Nya, kekuasaan-Nya, ilmu-Nya, serta persaksian bahwasanya Allah ta’ala mengetahui hamba-hamba-Nya secara terperinci. Di dalamnya juga terkandung pengakuan akan kitab-kitab Allah ta’ala, para Rasul-Nya, serta perintah dan larangan-Nya. Terkandung pula pengakuan terhadap janji Allah ta’ala serta ancaman dan perjumpaan dengan-Nya. Dengan demikian, tidaklah sah pengakuan takut seseorang kepada Allah ta’ala melainkan dengan mengakui semua ini.

4. Qalbun Munib

Masih dalam ayat 33, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan sifat lain penduduk Surga, yaitu: “Dan dia datang dengan hati yang bertaubat”. Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berpendapat: “Yakni, kembali kepada Allah ta’ala dari perbuatan-perbuatan maksiat; lantas melakukan ketaatan, menunjukkan kecintaan dan bersimpuh kepada-Nya.”

Balasan bagi orang-orang yang menyandang sifat di atas disebutkan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam ayat 34-35: “Masuklah ke ( dalam Surga ) dengan aman dan damai. Itulah hari yang abadi. ‘Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya.”

Saudaraku sekalian, semoga sifat-sifat di atas ini dapat membuat kita semakin dekat dengan Allah ta’ala, segera bertaubat dan menjauhi segala maksiat. Karena memang Surga-lah tujuan kita kembali. Semoga bermanfaat.

Fawaidul Fawaid karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *