Urusan Agama itu Bertingkat

Oleh. Ustadz Muhammad Arifin Badri, MA.

Malas ah, belajar agama tuh bikin hidup orang keren jadi kusut, dan kolot.

Banyak orang takut belajar agama, apalagi mengamalkannya dengan sepenuh hati.

Alasannya simple, banyak oknum yang semula hidup keren, setelah “ngaji” berubah jadi gembel.

Urusan Agama Itu Bertingkat-Tingkat

Eeh, sabar dulu, urusan agama itu bertingkat-tingkat, bisa jadi maksudnya jadi ulama’, bisa jadi maksudnya sekedar taat beragama, walau tanpa menjadi ulama’.

Sebagai contoh; anda bersuami yang ahli agama, tidak berarti jadi ulama’ dulu baru menikah atau menikahnya di”karantina” dulu, sampai jadi ulama’ kemudian dilanjutkan lagi.

Niat Mendatangkan Pahala

Lebih kongkrit, kalau anda sudah terlanjur menikah, maka bubuhkan niat karena taat kepada Allah dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangga anda, sampaipun dalam urusan berhubungan badan dengan istri, bubuhkan niat untuk melampiaskan kebutuhan biologis Anda, agar selamat dari zina.

Apalagi bila ditambahi niat demi menjaga diri istri Anda dari maksiat, tentu amalan ini mendatangkan pahala bagi Anda, tanpa mengurangi kepuasan Anda dari hubungan badan tersebut.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

)وَفِى بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ(. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيَأْتِى أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: (أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِى حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ، فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِى الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ).

“Dan dengan melampiaskan syahwat birahimu engkau bisa mendapatkan pahala”. Spontan para sahabat bertanya keheranan, “Wahai Rasulullah, mungkinkah dengan melampiaskan syahwat birahi, kita mendapatkan pahala karenanya ?” Rasulullah balik bertanya, “Apa pendapat kalian bila ia melampiaskannya pada perbuatan haram, bukankah ia berdosa ?

Demikian pula sebaliknya bila ia melampiaskannya di jalan yang halal, maka tentu ia mendapatkan pahala.” [HR. Muslim]

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Pada hadits ini terdapat dalil bahwa dengan niat baik, amalan mubah dapat bernilai ibadah.

Hubungan badan –misalnya- bernilai ibadah bila dilakukan dengan niat memenuhi hak istri, atau memperlakukannya dengan cara yang baik sebagaimana yang Allah peritahkan.

Demikian juga dengan tujuan mendapatkan keturunan yang shaleh, atau menjaga dirinya atau istrinya dari perbuatan haram. Dan bisa juga dengan maksud melindungi keduanya dari memandang hal haram, membayangkan, atau menginginkannya atau niat-niat baik yang lain.” [Syarah Shahih Muslim oleh An Nawawi 7/92]

Kerugian Besar

Kalau ini baru Anda ketahui, berarti selama ini, Anda rugi besar, karena begitu banyak amal rutinitas Anda yang dapat mengalirkan pahala, namun selalu Anda sia-siakan.

Setiap pagi Anda makan dan minum, namun hanya sekedar menuruti selera perut semata. Andai Anda membubuhkan niat agar dapat kembali kuat sehingga bisa menjalankan ibadah, tentu segunung pahala dapat menjadi milik Anda.

Dengan demikian, niat-niat yang selama ini mendorong Anda melakukan berbagai rutinitas Anda, seakan-akan sia-sia belaka. Kepuasan biologis, kesenangan, refresing dan lainnya pastilah tercapai dari rutinitas Anda, baik Anda meniatkannya atau tidak.

Meraih Pahala Dengan Ridha Allah

Namun tidak demikian dengan pahala dan keridhaan Allah Azza wa Jalla . Tanpa niat yang baik nan tulus, Anda tidak mungkin meraihnya.

Sekali lagi renungkan! Anda memberi uang belanja kepada istri, tentu membuat mereka senang dan akhirnya setia kepada anda. Namun bila Anda membubuhkan niat menjalankan kewajiban yang telah diamanatkan oleh Allah kepada Anda sebagai suami, tentu ini akan menjadi amal ketaatan yang bernilai tinggi. Disamping istri Anda tetap senang dan dengan izin Allah semakin setia kepada Anda.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya tidaklah engkau membelanjakan suatu harta demi mendapatkan keridhaan Allâh, melainkan engkau mendapat pahala darinya. Sampai pun sesuap makanan yang engkau berikan kepada istrimu.”
[Muttafaqun ‘alaih]

Bila demikian, manakah yang lebih menguntungkan, memberi nafkah hanya sebagai rutinitas belaka, atau membubuhkan niat mengharap keridhaan Allâh Azza wa Jalla padanya ? Jawabannya, tentu yang kedua.

Semoga mencerahkan.

Dinukil dari status FB Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri, MA.

Leave a Comment